Monday, February 9, 2026

Networking vs Nepotism, What's The Difference?

Jum'at lalu alhamdulillah aku berkesempatan untuk ikut kegiatan Literary Sanctuary di Maktabah Muhajir, Pejaten. Literary Sanctuary ini salah satu kegiatan yang diadain sama Muhajir Project (IG: instagram.com/muhajirproject). Kegiatannya adalah baca buku bersama, kemudian bahas bukunya bareng-bareng. Yang menarik dari kegiatan ini, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah ikut hadir dan diskusi bareng, jadi diskusinya in syaa Allah tetap sesuai sama koridor dan rambu-rambu syariat. 

Di pertemuan yang lalu, buku yang dibahas itu judulnya Managing Oneself karya Peter F Drucker. Aku nggak mau bahas keseluruhan sesi diskusi kemarin. Aku cuma mau sharing sedikit penggalan diskusi yang menurutku menarik banget. Ada seorang dokter yang tanya tentang perbedaan antara networking dan nepotisme. Pertanyaan ini berangkat dari pengalaman beliau ketika mau lanjut pendidikan ke jenjang spesialis. Beliau cerita, untuk lanjut ke jenjang spesialis bagi dokter yang 'mudblood' itu cenderung lebih 'challenging' dibanding dokter-dokter yang 'pure-blood'. Karena seringkali mereka yang udah punya koneksi akan lebih mudah untuk lanjut ke jenjang spesialis. Dan sebetulnya hal kayak gini berlaku hampir di semua bidang kan?

Sesi diskusi untuk pertanyaan ini menarik banget. Awalnya pertanyaan ini dijawab sama Abah (sorry, I actually don't know who he is) yang memoderatori sesi diskusi kemarin. Abah bilang, pada intinya kita perlu mengembalikan semuanya ke Allah. Istikharah. Kalau Allah mengarahkan kita ke suatu jalan, that would be the best for us, sekalipun ternyata nantinya kita gagal. Kata Abah, networking is important, but becoming the best version of ourselves is more important. And I agree with that.

Tapi, yang menarik itu ketika Ustadzuna ikut jump in ke sesi diskusi ini. Beliau kasih penjelasan yang menurutku mind blowing banget. Kalimat pertama dari jawaban Ustadzuna adalah, "don't fight it." 

Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami terlebih dahulu kalau hidup itu memang seringkali nggak adil. Life is fair because it's unfair, they said. Dan realitanya, mayoritas orang sukses itu memang lahir dari 'jalur belakang'. Rasulullah meminta kita untuk 'adapt', bukan 'complain'. Dan menurutku, ‘don’t fight it’ yang Ustadzuna katakan tadi bukan berarti membenarkan kezaliman, tapi menerima realita dunia tanpa kehilangan kompas nilai.

Bicara tentang networking, Rasulullah juga mengatakan keberkahan itu bersama senior.

البَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Keberkahan itu bersama orang-orang senior di antara kalian.”

(HR. At-Thabrani dan al-Hakim, serta disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)

Ketika bicara tentang khalifah, Rasulullah juga berkata kalau kekhalifahan hanya boleh dipegang oleh orang Quraisy (rujukan detailnya masih aku cari, guys). Sebagian ulama juga menjelaskan konteks historis dan sosial dari hadits ini. Kalau narasi ini digaungkan di era sekarang, ini kurang terdengar nepotisme gimana?

Di sini Ustadz Nuzul kasih pandangan kalau mendekat dengan senior atau orang yang lebih ahli di bidang yang kita tekuni itu memang diperlukan. Ustadz bilang, kalau hanya mengandalkan kecerdasan dan skill, senior kita justru akan melihat kita sebagai ancaman. Untuk bisa dilihat sebagai successor mereka, kita perlu merapat dan menjalin hubungan baik dengan mereka. 

Orang di level atas itu nggak sulit untuk dapat uang. Yang sulit mereka dapat itu kepercayaan. Dan kepercayaan nggak bisa didapat hanya dengan kecerdasan atau keahlian, tapi dengan adab dan loyalitas. 

Tapi sekali lagi, dunia itu memang nggak adil. Jadi kalau in the end kita nggak bisa dapat apa yang kita mau karena kalah sama yang lebih punya 'koneksi' atau bahkan kalah sama yang terang-terangan nepo baby, nggak perlu kecewa berlebihan. Di bagian ini lumayan nampar aku banget sih. Karena sebetulnya yang paling melelahkan bukan kegagalan, tapi membandingkan takdir kita dengan takdir orang lain.

Di bagian ini, ustadz kembali mengingatkan bahwa kita diciptakan sama Allah itu untuk beribadah, bukan untuk achieve something. Selama kita tetap bisa beribadah, nggak masalah Allah takdirkan kita di posisi manapun. 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

(Q.S Adz Dzariyat: 56)

Dan inti dari kehidupan itu bukan dengan berada di atas. Inti kehidupan itu bersyukur ketika berada di atas, dan bersabar ketika berada di bawah. 

Kemudian Ustadz tutup sesi diskusi ini dengan pesan; selama kita punya kejujuran, ketulusan, dan work ethic yang bagus, in syaa Allah, Allah kasih jalan..

Yang bisa aku simpulkan dari penjelasan Ustadz Nuzul di atas, meskipun terkesan tipis dan samar, sebenarnya ada perbedaan yang cukup jelas antara networking dan nepotisme. Nepotisme bisa dibilang sekadar privilege tanpa proses. Sementara networking membutuhkan adab, loyalitas, dan proses panjang untuk bisa mendapatkannya. Dan di situlah nilai seorang hamba diuji: ketika dunia nggak adil, apakah kita tetap memilih berjalan lurus. Dan ternyata, itu sering kali lebih sulit daripada sekedar “berhasil.”

Alhamdulillah bersyukur banget bisa berkesempatan datang ke Literary Sanctuary Jum'at lalu. Semoga Allah takdirkan aku untuk bisa datang lagi di sesi-sesi berikutnyaaaa. 

Dan perlu diingat, yang aku tulis ini berdasarkan catatan dan pemahamanku yang sangat mungkin ada kurang dan salahnya. Kalau ada yang mau meluruskan, I would be very happy :)

Wednesday, April 8, 2020

Short Story: Minta Kepada Siapa

pic from pinterest

Aku mengaduk es batu pada segelas green tea di hadapanku tanpa minat. "Serius nggak bisa nih, Ndin?" Kembali aku mengulang pertanyaan yang sama, sambil menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa cafe, yang sayangnya tidak terlalu empuk ini.

"Iya, sorry banget, Lan. Ini bos gue juga ngabarinnya dadakan banget." Jawab Andini dari ujung sambungan telepon. Jawaban yang sukses membuatku frustasi.

Andini adalah sahabatku semasa kuliah, yang saat ini sudah sukses menjadi penulis novel sekaligus influencer yang diidolakan oleh banyak generasi millennials. Sudah sejak awal bulan yang lalu aku memintanya untuk menjadi pembicara pada seminar orientasi mahasiswa baru di kampus almamater kami, yang sekarang ini juga menjadi tempatku mencari nafkah.

Acara tinggal satu pekan lagi dan setengah jam yang lalu Andini baru mengabarkan kalau tiba-tiba dia dijadwalkan untuk mengikuti training di Kuala Lumpur selama seminggu oleh kantornya. Selain sukses sebagai penulis, temanku yang satu ini memang masih berprofesi sebagai karyawan di salah satu kantor konsultan di Jakarta.

"Emang trainingnya nggak bisa ditunda dulu gitu, Ndin?" Pintaku sekali lagi, masih berusaha membujuknya.

Sudah empat bulan terakhir ini aku bekerja sebagai Public Relations di kampus tempatku berkuliah dulu. Minggu depan kami akan mengadakan orientasi mahasiswa baru dan salah satu mata acaranya adalah seminar yang akan diisi oleh alumni kampus yang bisa dikatakan sudah sukses dan punya nama.

Teman-teman kantor yang mengetahui bahwa aku bersahabat dengan Andini Sarananta, penulis muda yang novelnya akan segera diangkat ke layar lebar dan digandrungi banyak remaja, lantas memintaku untuk menghubungi Andini agar dia bersedia menjadi pembicara pada seminar nanti. Semua prosesnya lancar-lancar saja pada awalnya. Sampai siang ini..

"Nah itu dia masalahnya. Yang ngatur jadwal trainingnya kan bukan gue, Alanaa. Kalo bisa milih juga gue nggak mau ikut training sekarang." Jelas Andini dari ujung sambungan telepon, membuatku makin tidak berselera menghabiskan spaghetti carbonarra yang sudah ku pesan dan baru aku makan kurang dari sepertiganya.

Sudah sekitar setengah jam aku duduk di cafe ini sendirian. Cafe dengan interior serba putih yang sangat cozy dan lokasinya cukup dekat dengan kantor. Maksud hati ingin memanjakan diri, kabur dari kantor di jam makan siang untuk sedikit me time sebelum nantinya kembali ke kantor dengan jadwal meeting untuk membicarakan persiapan masa orientasi mahasiswa baru. Rencana me time yang jadi berantakan semenjak Andini meneleponku dan mengatakan tidak bisa menjadi pembicara seminar. Aku harus bilang apa ke timku saat meeting nanti??

"Atau lo cuti aja gimana? Jadi lo nggak perlu ikutan training, kan?" Usulku, masih tetap berusaha. 

"Ngajuin cuti pas jadwal training sih sama aja gue ngajuin surat pengunduran diri, Lan." Jawab Andini yang sepertinya mulai lelah memberikan penjelasan kepadaku. 

"Terus gue gimana dong, Ndin? Gue kan udah minta sama lo dari hampir dua bulan yang lalu. Masa dibatalin gitu aja? Gue harus nyari pembicara pengganti dari manaaa?" Aku kembali merengek sambil mulai menahan tangis. 

"Yah, Lan.. Gue minta maaf banget tapi gue beneran nggak bisa. Gue janji deh, ini gue sambil coba kontak temen-temen penulis lain yang kira-kira bisa gantiin gue. Kalo udah dapet gantinya, gue langsung hubungin lo. ASAP." Ujar Andini, berusaha menghiburku. Aku hanya menghela napas sambil mengaduk spaghetti di piringku tanpa minat.

"Lan? Haloo, Alana?"  

"Iya, Ndin. Ya udah kabarin aja kalo lo bisa dapet pembicara pengganti, ya. Bye, Assalamu'alaikum." Aku langsung mematikan sambungan telepon tanpa merasa perlu menunggu Andini membalas salamku. Aku masih kesal dengan sahabatku ini, walaupun aku tahu semua ini terjadi di luar kuasanya. 

Pupus sudah harapanku menjadi karyawan baru yang teladan. Saat dapat tugas untuk menghubungi pembicara, aku sangat excited karena rasanya bukan perkara sulit untuk meminta Andini mengosongkan jadwal. Sahabatku yang super ceria itu pasti mau membantuku. Sayangnya aku lupa bahwa dia juga seorang karyawan dengan jadwal pekerjaan yang padat luar biasa dan sewaktu-waktu jadwalnya bisa berubah. Alih-alih jadi karyawan baru yang teladan, sekarang aku justru harus memutar otak untuk mencari solusi sebelum meeting siang ini dimulai sekitar satu jam lagi. Nggak mungkin aku hadir meeting dengan berita buruk dan tangan kosong seperti ini, kan? Aku harus minta tolong ke mana lagii?

"Bun, tadi Tania di sekolah pake tas baru. Bagus deh tasnya, Bun. Ada gambar unicorn sama ada sequin nya. Kata Tania itu namanya tas smiggle. Naya mau tas kayak punya Tania itu, Bun." Celoteh anak perempuan di meja sebelah reflek membuatku menoleh.

Ku lihat Ia sedang menarik ujung kerudung bunda nya dengan tatapan penuh harap. Aku tebak usianya sekitar 7 atau 8 tahun, masih mengenakan seragam putih-merah dengan kerudung yang sudah sedikit berantakan. Permintaan anak itu menarik perhatianku, sejenak membuatku lupa dengan permasalahan yang aku hadapi. Well, tas smiggle kan nggak murah. Cukup brand minded juga ya anak SD zaman sekarang.

"Tas punya Naya kan masih bagus," Jawab bundanya acuh tak acuh, sambil membalik daftar menu yang dipegangnya. Anak kecil yang sepertinya bernama Naya tadi lantas menyandarkan tubuhnya pada lengan sang bunda, masih ingin meneruskan negosiasinya. 

"Iya tapi tas Naya kan nggak ada sequin nya, Bunda. Nggak keren kayak punya Taniaa." Ucap anak itu merajuk kepada bundanya. Kulihat kali ini sang bunda menghadapkan badannya ke anak kecil tadi, menatap anak itu dengan serius, kemudian mengatakan,

"Kalo Naya mau tas itu, minta sama Allah. Minta sama Ar-Razzaq untuk kasih rezeki ke Ayah sama Bunda. Minta sama Al-Hadi biar kasih petunjuk ke Ayah sama Bunda buat cari rezeki yang halal biar bisa beliin Naya tas baru. Hayo coba tadi pas shalat dzuhur Naya berdoa nggak?" Ucapan Bunda Naya ini rasanya bagai tamparan untukku. 

Minta sama Allah, minta sama Ar-Razzaq, minta sama Al-Hadi. 

Apa aku sudah meminta bantuan kepada Yang Maha Memberi Petunjuk atas segala permasalahanku ini? Aku minta bantuan kepada Andini seolah-olah hanya Andini lah yang dapat menolongku, lantas frustasi ketika ternyata harapanku tidak berjalan sesuai rencana. Aku lupa bahwa ada An-Nashir, Yang Maha Penolong, tempat aku seharusnya mengadu mengharap pertolongan pertama kali. Sekarang ini aku bahkan belum sahalat dzuhur! Astagfirullah..

"Oh iya, Naya lupa, Bunda. Naya berdoa sekarang, deh." Ucap anak itu seraya mengangkat kedua tangannya sambil mulut mungilnya bergerak-gerak, berbisik lirih mengucap doa dengan bahasa kanak-kanaknya yang sungguh menggemaskan. 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Terima kasih, Bunda dan Naya untuk pengingatnya! Ucapku dalam hati, kemudian mengambil ponsel dan dompetku untuk bergegas ke mushala cafe. Mushala kecil berukuran 3 x 4 meter inilah yang menjadi saksi bisu 'curhat'ku kepada Allah, mengutarakan segala permasalahanku tanpa adanya kata yang terucap. Tak terasa pipiku mulai basah akibat air mata yang turun tanpa aku komando. Tangisan ini bukan karena Andini yang tiba-tiba membatalkan janjinya kepadaku, bukan pula karena aku belum berhasil mendapatkan pembicara untuk menggantikan Andini. Tangisan ini adalah tangisan malu, malu karena aku melupakan Dzat yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat untukku bergantung. Malu karena tidak sepatutnya aku menyalahkan Andini. Segala permasalahan yang aku alami pastilah akibat dosa dan maksiat yang aku lakukan, entah sadar ataupun tidak.


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk. Aku menyeka air mataku lalu membaca pesan tersebut. Pesan dari Mbak Lita, atasanku di kantor. Kali ini aku sudah lebih tenang dan pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Dunia tidak akan kiamat hanya karena Andini tidak bisa menjadi pembicara seminar, kan? Timku di kantor pasti punya kenalan alumni sukses lainnya yang bisa menggantikan Andini. Aku hanya butuh bekerja lebih keras lagi, dan mempersiapkan diri untuk lembur tentunya.

Mba Lita (081234xxxx)

Alana, masih lunch di luar ya? Meeting akan kita majukan, ada perubahan agenda. Pihak televisi menawarkan kerjasama. Acara Telinga Nashwa direncanakan akan live di acara semintar orientasi mahasiswa baru. Otomatis kita tidak bisa menjadikan Andini Sarananta sebagai pembicara karena pembicara akan diisi Nashwa Syahab selaku host Telinga Nashwa sekaligus alumni kampus ini. Bisa segera kembali ke kantor? 


Masya Allah.. Doaku dibayar kontan! 

Sunday, July 7, 2019

Merasa Diawasi


bismillah..

Hey! It's been a while since the last time i've posted something here. Now is Dzulqo'dah already and I just trifled my Syawal away. Sepanjang bulan Syawal kemarin ga dateng ke kajian manapun dan rasanya keriiiiiiing banget. Bener-bener ngerasa lost aja gitu. Dan jadinya banyak ngerjain hal yang sia-sia kayak baca novel, nonton web series mulu, dengerin lagu, dll dll dll yang ga perlu dijelasin juga sih ya sebenernya. Heu

Mulut tuh juga rasanya jadi enteeeng banget buat ngomongin orang, nyinyir, komen yang ga perlu, bercanda berlebihan, yaa pokoknya sebulan kemarin itu rasanya futur banget deh. Padahal baru aja pisah sama Ramadhan ya :""

Nah alhamdulillah akhirnya Sabtu kemarin aku bisa dateng lagi ke kajian rutinnya Ustadz Nuzul Dzikri di Masjid Nurul Iman Blok M Square setelah hampir sebulan 'meliburkan diri' ga dateng-dateng kajian. Emang bener ya. obatnya futur itu ya dateng ke majlis ilmu dan kumpul sama orang-orang shalih. Ndilalah kok ya materi kajian kemarin itu rasanya paaaas banget. Berasa ditampar bolak-balik gitu akutuh rasanya. Nah karena materi kajian kemarin juga yang bikin aku pengen blogging lagi dan share sedikit materinya di sini. Minimal tulisan ini bisa jadi reminder buat aku sendiri kalo lagi iseng baca-bacain blog, mengingat kayaknya blog ini sekarang udah nggak ada pembacanya juga hahaha ngenes yha. Aku juga ga mau share full materi kajiannya di sini sih. Cuma mau share beberapa quotes yang berhasil 'nyentil' aku di kajian kemarin. Duh intro nya kepanjangan ya sepertinyaa.

Muraqabatullah,
merasa di awasi oleh Allah.

"Orang yang punya muraqabatullah, sikapnya 24 jam akan sama. Berbuat baik di manapun, bukan hanya di majlis saja." 

-Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri-


Nah, baru masuk awal materi aja rasanya udah kayak ditabokin. Kok ya kutipan di atas ga aku banget :( Kalo lagi di kajian atau kumpul sama temen-temen kajian rasanya lisan bisa banget terjaga. Rasanya lisan dan hati mudah banget buat ucap dzikrullah. Tapi kalo udah ga di majlis ilmu, kalo lagi ngumpul sama temen-temen kantor, atau temen-temen SMP atau SMA, lisan kok ya jadi mudah banget ghibahin orang, nyinyirin orang, secara ga langsung ngerendahin orang. Kayak lupa kalo ada Yang Maha Melihat yang pengawasannya ga akan luput sedetikpun. Sedih :( semoga Allah jaga kita untuk bisa terus merasa diawasi sama Allah ya..


"Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat."

-Bilal ibn Sa'ad-


Kalo yang ini jlebnya luar biasa sih..Emang kuncinya supaya bisa menghindari maksiat itu senantiasa merasa diawasi sama Allah. Sering-sering evaluasi diri, mempehatikan diri di setiap keadaan. Sekali lagi, semoga Allah jaga kita untuk bisa terus merasa diawasi sama Allah...

Aku ga mau share materinya secara lengkap karena aku rasa itu masih jauh di luar kapasitas aku. Takut ada salah-salah penyampaian yang malah menyesatkan. Kalau ada yang mau denger kajian full nya, better bisa langsung cek youtube channelnya Ustadz Nuzul Dzikri di sini. Biasanya dalam seminggu atau dua minggu akan di upload kok. Semoga kutipan dari quotes di atas cukup jadi reminder buat kita untuk lebih menjaga lisan, menjaga sikap, menjaga perilaku karena setiap gerak gerik kita itu ada yang mengawasi, dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak..

Muraqabatullah,
sederhana tapi susahnya minta ampun..


Lots of love,

Dhianti Ayu.



لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت
“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت
“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html

Wednesday, December 5, 2018

This Path Is A Lonely Path



This path is a lonely path.
So don't be surprised when a time comes when you become a stranger among people you thought were strangers like yourself. The longer you remain on this blessed path, the more the people will see you as someone who baffles them because a person who chases this dunya will always find ambitions for the aakhirah strange. 

This path is a lonely path.
Because the lover of the dunya have nothing to do with it. It is shunned by the most, out of fear of losing the temporary while they don't realise how they are ruining their eternal life. It is not sought after except by those rare, few, blessed ones who seek the Face of Allah Ta'ala more than anything this worthless world has to offer. you will be mocked, misunderstood, considered a foreigner in your own homeland, considered a stranger amongst your own friends and family.

But know, O beloved, that you aren't the only one whoo feel this staggering bite of loneliness, and you certainly aren't the first. This is the path, where Rasulullah (pbuh) was rejected by his own family and tribe, the path where Yusuf álaihissalaam was thrown into prison for a crime he never committed. And the examples are many. 

Know, O beloved, that you have chosen this path knowing all the hardships, and so you must bear them with patience and walk upon this path with a smile on your faces. Because this is the path for which the Sahabah radhiAllahu'anhum gave their lives. This is the path of the few, blessed, chosen servants of Allah. So strive to be from amongst them. 

"The path of truth is solitary. Those who traverse it are lonely; they're not wanted, nor their aspiration. Leisurely do they travel, with resolution. Of what they seek, people are heedless, for, about the truth, most are careless."  -Ibn Rajab al-Hanbali-



This path is paved with torn of limbs, irrigated with blood, surrounded by trials. Its tribulations and fitnah waylay you on this path. But as long as you know your goal, and the way is clear to your sight, pursue your journey whatever the case is.



Source: @ukt_in_islam (Instagram Account)

-------------------------

Just read this writing this morning and I feel like, this was made to cheering me up. Mungkin sebenernya tulisan ini lebih relate buat temen-temen muslim yang tinggal di negeri dengan minoritas penduduk muslim. Tapi entah kenapa pas baca ini aku ngerasa relate bangetttt.

 For someone who has written this beautiful writing wherever you are, thank you for encouraging me to always be istiqomah to take this path..


Salaam,


Dhianti Ayu

Sunday, September 9, 2018

Tentang Kematian dan Menjadi Shalihah


Setuju banget sama pendapat yang bilang kalo kematian itu nasihat terbaik buat kita. Dua hari lalu dapet kabar kalo ayahnya Diva, salah satu temenku dari zaman SD, wafat. Rasanya super kaget soalnya baru sekitar semingguan yang lalu ketemu Abah -Diva's dad, btw- di wisudaannya Diva dan keliatannya sehat dan fit banget. Emang bener ya kalo ajal itu bisa dateng kapan aja, nggak peduli kita udah siap atau belum.

"Doa'in Abah ya Dhe. Do'ain gue juga biar jadi shalihah."

Kalimat pendek yang sebenenya sederhana banget, tapi bener-bener meaningful buat aku. Waktu aku takziah, nggak sempet ngobrol banyak sama Diva tapi kalimat pendek yang Diva bilang tadi bener-bener sukses jadi pengingat buat aku yang sekarang ini lagi ngerasa futur seefutur-futurnya. 

Sering banget kita bilang pengen jadi ini, pengen jadi itu, pengen sukses begini, pengen sukses begitu, biar bisa banggain orang tua. Sering kali yang berhasil jadi motivasi kita buat mencapai sesuatu itu karena orang tua kita, karena kita mau banggain mereka. Tapi kadang kita lupa, kalo yang sebenernya paling mereka butuhin dari kita itu adalah dengan kita menjadi shalih/shalihah. Segala kesuksesan dunia yang mungkin berhasil kita raih, nantinya nggak akan bisa berguna apa-apa ketika orang tua kita udah menghadap Allah. Karena yang bisa menolong kita di akhirat nanti cuma tiga hal: shadaqah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. Yaa, walaupun nggak ada yang tau juga sih, siapa yang akan dipanggil Allah lebih dulu. Bisa jadi orang tua kita, atau justru kita lebih dulu? Tapi menjadi shalihah jelas nggak ada ruginya, kan?


 “Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)


Aku sepenuhnya sadar kalo sekarang ini aku masih jauuuuuh banget dari kategori shalihah. Masih susah jaga lisan, suka nyinyir, hobi stalking akun gosip, hafalan ga nambah-nambah, dan setumpuk dosa lain yang nggak mungkin cukup buat aku tulis di sini. Dari ucapan Diva tadi, aku diingetin kalo dari segala impian yang mau aku raih sekarang, menjadi shalihah seharusnya jadi impianku yang nomor satu, dan semuanya harus dilakuin karena Allah, untuk dapet ridhanya Allah.

Hhhh, easier said than done. 

Anyway, terima kasih Diva untuk pengingatnya yang bener-bener bermanfaat buat aku yang lagi futur ini. Allah emang punya jutaan cara yah buat 'nyentil' dan ngingetin ummatNya. 




Tons of love,

Dhianti Ayu

Thursday, April 12, 2018

Edisi Kangen Blogging

Hi, Assalamuálaikum!



Kangen blogging banget! Semenjak para blogger beralih ke vlog, entah kenapa aku jadi males blogging :( Bukan cuma males bikin postingan, tapi males blog walking juga.. Kenapa?

1. Mostly isi postingan para blogger sekarang adalah sponsored post.
Yaa, nggak ada yang salah juga sih dengan itu. Kan itu salah satu pintu rezeki yang halal juga. Tapi aku sungguh kangen baca postingan yang emang personal thought atau daily life nya si penulis blog *krai*.

Masih ada sih beberapa blogger yang emang masih rajin nulis di luar sponsored post. Tapi ya udah berkurang banget dibanding dulu :(


2. Fashion Blogger beralih ke Instagram
Ini sih ya kayaknya alasan utamanya. Awal aku kenal blog kan emang karena sering blog walking ke blog nya para hijab fashion blogger macam Indah Nada Puspita, Siti Juwariyah, Puput Utami, Fitri Aulia, dkk. Semenjak mereka-mereka ini beralih ke Instagram dan jadi jarang banget update blog, aku automatically jadi jarang blog walking karena ya mau blog walking kemana juga kan :( Harus puas hanya dengan melihat instagram mereka sajah :") padahal baca di blog dan di Instagram itu sensasinya beda :( *banyak mau lo, dhe*

Thank God Diana Rikasari masih rajin (banget) update blog :")


Terus kenapa ga lo aja dhe yang rajin update blog biar minimal rasa kangen lo sama blogging terobati?

AKU WRITER'S BLOCK, QAQAAA :""""

Sedih banget ih sebenernya tuh kangen banget nulis tapi nggak tau mau nulis apa. Mentok. Nggak ada ide. Dan akhirnya malah curhat ga penting macem ini.


Lalu apa faedah dari postingan ini?
Nggak ada sih kayaknya.

Heu.

Ya udah deh aku pamit aja. Doakan semoga writer's block-nya segera hilang ya :"




Tons of Love,


Dhianti Ayu

Sunday, August 13, 2017

Public Display of Affection, boleh nggak ya?

"Ya ampuuun, gemash ya liat pasangan ini yang akhirnya halal jugaa"
"Ih sekarang gandengan tangannya udah jadi pahalaa, honeymoon nya ke Turki pula. Mauuu"
"Astagahhh, selfie berdua di mobil aja rasanya gemesin banget. Gue kapan ya?" *kemudian gigit jari*

Well, Assalamu'alaikum, everyone! I'm back! kangen aku gaaa?
Mentemen, sekali-sekali bahas yang nyerempet masalah cinta-cintaan nggak apa lah ya? 

Publlic Display of Affection? PDA? maksudnya apa sih? 



Pernah nggak sih temen-temen liat ada pasangan yang gandengan tangan, rangkulan, pelukan, atau bahkan kissing di depan umum? Nah, itu namanya PDA. Simple nya, unjuk kemesraan di depan umum lah. Mungkin kalo di Indonesia -atau di Jakarta khususnya- pegangan tangan atau rangkulan mah udah wajar lah yaa.

Personally, aku sih cenderung risih ngeliat pasangan yang PDA gitu, apalagi kalo dilakuin sama pasangan ABG atau orang-orang yang pacaran. Rasanya kayak, duh belum waktunya aja... Even sama yang udah nikah juga suka ngerasa risih sih kalo liat di mall ada yang mesranya terlalu gimana gitu.

Tapi, PDA yang mau aku bahas di sini tuh bukan PDA yang kayak gitu.. Tapi PDA terselubung yang sering aku liat di medsos, terutama instagram. Kok terselubung? 

Jadi gini, kalo ngeliat ada pasangan kayak selebgram, artis, atau temen-temenku yang update di Instagram sama pacarnya, aku mah cenderung bodo amatan. Nggak peduli, apalagi iri. Ada juga risih hahahaha. Tapi, kalo yang update sama pasangannya itu orang-orang yang -menurutku- alim, shalih/shalihah, yang menikahnya dengan cara yang baik (let's say, taaruf?), aku tuh suka gemaaash, rasanya cute aja. Kalo kata anak zaman sekarang mah, kayak ngeliat relationship goals gitu lah. Kemudian muncul lah komentar-komentar kayak yang aku tulis di awal tadi, dan akhirnya berujung.....iri :" Mau kayak gitu jugaaa.

Duh, ngenes amat yak. 

Yaa pokoknya seneng lah gitu ngeliatnya. Walaupun kadang yang di share cuma foto sederhana, tapi caption fotonya kok ya sweet amaat. Nyeritain keromantisan-keromantisan suaminya gitu.. Awalnya aku mikir kalo itu bisa jadi salah satu cara syiar untuk nunjukin kalo pacaran setelah menikah tuh asik, lho. Berpahala pula. Dengan share keromantisan sama suami juga bisa jadi pembelajaran tentang bagaimana suami-istri seharusnya bersikap. Pokoknya nanti kalo udah nikah mau begitulah. Biar bisa menginspirasi yang lain juga.

Tapi, pemikiran aku itu berubah beberapa hari lalu. Tepatnya waktu ngeliat postingan salah satu desainer muslimah yang nunjukin  DM yang beliau terima. Isi DMnya, ada perempuan yang minta beliau buat bujukin suaminya biar mau berpoligami, soalnya perempuan ini mau jadi istri keduanya! DHUAR banget kan???  Emang sih, desainer muslimah ini lumayan sering share tentang materi rumah tangga sama parenting gitu dari pengalaman-pengalaman pribadinya. Jadi ya lumayan sering juga posting tentang kebaikan-kebaikan yang dilakuin suaminya. Jujur aku sih seneng dan banyak belajar dari postingan-postingan yang suka beliau share ini. Tapi setelah liat DM tadi, aku jadi takut sendiri. Bukan nggak mungkin kan perempuan itu mau jadi istri kedua karena iri ngeliat postingan-postingan yang di share desainer muslimah itu? Kerena mau juga diperlakukan kayak gitu sama suaminya si desainer muslimah?

Duh kok jadi kayak promosiin suami sendiri :"

Sehari setelah liat postingan itu, teh Ghina juga share di IG storiesnya terkait PDA ini. Uhm, beliau nggak pake istilah PDA sih, tapi yaa serupa lah.. Teh Ghina ini dulunya lumayan sering gitu posting foto bareng atau nulis caption tentang suaminya. Tapi sekarang-sekarang ini udah nggak pernah, soalnya Teh Ghina udah sadar bahayanya. Bahaya? Bahaya gimana maksudnya? Yaa kayak yang kejadian sama desainer muslimah tadi itu. Teh Ghina juga pernah ngalamin yang kayak gitu makanya sekarang berusaha nggak gitu lagi karena memang banyakan mudharatnya. 

Coba deh, sebenernya apa sih tujuan kita buat share hal-hal kayak gitu? Untuk berbagi tips tentang berumah tangga? Berbagi kebahagiaan? Mungkin iya. Tapi entah sadar atau nggak, pasti ada niatan untuk pamer, walaupun mungkin sedikiiiiit banget. Kalo kata Teh Ghina mah, nggak mungkin orang-orang yang main medsos nggak pernah pamer. Pasti pernah.

Jujur, aku sebagai 'penikmat' postingan-postingan kayak gitu, nggak jarang dibikin baper bacanya. Bikin pengen cepet-cepet nikah. Mungkin bagus sih untuk memotivasi biar mau cepet nikah, tapi kalo jodohnya emang belum didekatkan sama Allah, gimana dong? Aku mah masih bisa nyantai soalnya umurku memang belum masuk usia urgent-kudu-buru buru-nikah. Tapi kalo dibaca sama orang-orang yang usianya udah cukup, dan orang ini jadi kebelet nikah sementara jodohnya emang belum ada, gimana coba? Kasian kan? 

Aku juga jadi sering mengkhayal buat foto-foto romantis ala ala sama pasangan halal aku nanti, bahkan udah nyiapin caption buat di post di Instagram! LOL banget kan? Pasangannya siapa juga belum tau padahal... Kadang tuh jadi pengen cepet nikah karena ngeliat di Instagram kok kayaknya nikah tuh enak banget ya. Seolah-olah nikah tuh cuma perkara upload foto sweet pas akad/resepsi, upload foto honeymoon, gandengan tangan, ketawa bahagia depan kamera. Padahal kan nggak begitu. Seolah-olah dibikin lupa kalo kehidupan berumah tangga yang ditampilin di instagram itu cuma apa yang terlihat dipermukaan aja.. 

Belum lagi kalo kejadian kayak yang dialamin Teh Ghina sama desainer muslimah tadi. Bahkan Teh Ghina juga bilang kalo ada perempuan yang bersedia jadi istri kedua, padahal kondisinya dia udah punya suami! Dia bersedia jadi istri kedua soalnya sikap dan akhlak suaminya nggak sebaik suaminya Teh Ghina.. Sedih kan.. Mungkin yang berani dan mau jadi istri kedua kayak gitu emang nggak banyak. Tapi berapa banyak orang yang dibikin iri dari postingan-postingan yang kita share? Berapa banyak yang akhirnya merutuki nasib karena suaminya nggak bersikap seperti itu? Dan akhirnya kita jadi penyebab orang jadi hasad, jadi berpenyakit hati... Naudzubillah..

Jadi, buat kakak-kakak shalihah yang udah nikah di luar sana, yuk coba lebih bijak dalam memilih dan memilah untuk share sesuatu ke media sosial.. Nggak mau kan kita jadi penyebab seseorang berpenyakit hati? Kasihani lah sedikit kami-kami yang masih jomblo ini :"


Anyway, Teh Ghina itu siapa sih? Beliau itu muslimah yang lumayan sering share tentang materi-materi keislaman di akun instagramnya. Umurnya cuma setahun lebih tua dari aku tapi wawasan keislamannya ma syaa Allah bangeeeeet. 

Akun instagramnya apa? So sorry aku nggak bisa kasih tau, soalnya katanya Teh Ghina kurang nyaman kalo followersnya terlalu banyak. Padahal sekarang followersnya udah puluhan ribu. Udah terlanjur banyak itumah teeeh wkwkwk

Lo kenal Teh Ghina ini secara personal, Dhe? Enggak. Hahahahahaha. Kenal personal sih emang nggak, tapi seneng aja bacain tulisan-tulisannya jadi rasanya udah mengenal banget gitu wkwkwk


Well, aku juga nggak tau sih kalo aku udah nikah nanti, aku akan bisa commit buat nggak PDA atau nggak. Karena pasti kan nggak gampang ya. Apalagi aku mah masih suka riya' hahahaha. Masih jauh lah dari wanita shalihah panutan nan idaman. Doain ajalah ya semoga aku bisa demikian...

Eh, 

Doain ketemu jodohnya dulu aja deh! Hahahahahaha



Berhubung tulisan ini udah panjang banget, aku cukupkan aja yaa. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari ceritaku yang ngalor-ngidul inih. Heu




Tons of love,


Dhianti Ayu



Saturday, March 5, 2016

Kesal? Yuk, berdamai dengan perasaan!

Assalamu'alaykum


Hey, girls! Suka ngerasa kesal tanpa sebab yang jelas sama orang? Bete sama semua hal yang dilakuin orang itu padahal dia nggak ada salah secara personal sama kamu? Rasanya mau menghindar aja? Pergi sejauh-jauhnya dari orang itu? Atau malah mau cakar mukanya atau jambak rambutnya? Tenang, kamu bukan satu-satunya yang ngerasain itu, kok.

picture from here

Wednesday, August 5, 2015

Filosofi Jari

Bukan kok. Walaupun judulnya mirip, tapi postingan ini dibuat bukan untuk nyaingin film yang  pernah tayang di bioskop, yang diadaptasi dari buku berjudul sama itu kok. Beneran deh, bukan :p

Inspirasi untuk nulis postingan ini datang dari Pak Apip, dosen matkul Sejarah Masyarakat Arab yang nggak cuma sekedar ngajarin sejarah, tapi juga nilai-nilai kehidupan yang nggak ada di matkul manapun. Di beberapa pertemuannya, Pak Apip suka ngebahas tentang jari. Menurut beliau, masing-masing jari yang ada di tangan kita ini punya pengertian sendiri yang bisa jadi kunci sukses seseorang. Coba kita bahas satu-satu yaa

Friday, June 27, 2014

His protection

"Ma liat deh, jerawat adek sebernernya udh nggak ada ya, tinggal bekas2 nya aja"
"Iya kan kata dokternya pelan2, nanti kalo tinggal ngilangin bekasnya kan di ganti obatnya. Maknya kamu jangan centil, jangan ngaca melulu. Nanti kalo mukanya udah mulus jangan centil2 ya. Allah tau kali kalo kamu tuh centil, makanya kamu dibikin jerawatan biar ga ke centilan"
*cuma bisa nyengir*

Well, bener juga sih.. walaupun td mama ngomongnya sambil becanda sama ketawa-ketawa, tapi emang ada benernya juga kalo Allah tuh emang punya cara yang unik buat ngejaga hambaNya. Mungkin dengan karakter gue yg kayak gini, gue bisa makin lenjeh dan kecentilan kalo di kasih muka mulus. Makanya Allah ngelindungin gue dengan bikin muka gue jerawatan, supaya gue bisa lebih behave, mungkin. Nah semoga dengan keadaan gue yang skrg lagi berusaha menyederankan penampilan, yang berusah nggak pake kerudung pendek, jeans dan selalu pake kaos kaki (to be honest awalnya ini susaaah bgt), yang mulai mau meninggalkan masa2 kebodohan, semoga Allah jadi mau untuk bikin muka gue mulus lagi. Karena sejujurnya enakan punya muka mulus daripada jerawatan (ya iyalaah). Dan semoga, kalo nanti mukanya udah mulus, gue nggak lupa untuk ngejaga apa yg seharusnya gue jaga, ngejaga apa yg seharusnya cuma boleh dinikmati sama mahrom gue. Aamiin.

Makanya, coba yuk buat mulai ngeliat sesuatu dari kacamanta yg beda. Karena mungkin aja, kita nggak suka sama sesuatu padahal itu caranya Allah buat ngelindungin kita, melalui hal-hal yang nggak kita sadarin. Ya kan?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...