Monday, February 9, 2026

Networking vs Nepotism, What's The Difference?

Jum'at lalu alhamdulillah aku berkesempatan untuk ikut kegiatan Literary Sanctuary di Maktabah Muhajir, Pejaten. Literary Sanctuary ini salah satu kegiatan yang diadain sama Muhajir Project (IG: instagram.com/muhajirproject). Kegiatannya adalah baca buku bersama, kemudian bahas bukunya bareng-bareng. Yang menarik dari kegiatan ini, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah ikut hadir dan diskusi bareng, jadi diskusinya in syaa Allah tetap sesuai sama koridor dan rambu-rambu syariat. 

Di pertemuan yang lalu, buku yang dibahas itu judulnya Managing Oneself karya Peter F Drucker. Aku nggak mau bahas keseluruhan sesi diskusi kemarin. Aku cuma mau sharing sedikit penggalan diskusi yang menurutku menarik banget. Ada seorang dokter yang tanya tentang perbedaan antara networking dan nepotisme. Pertanyaan ini berangkat dari pengalaman beliau ketika mau lanjut pendidikan ke jenjang spesialis. Beliau cerita, untuk lanjut ke jenjang spesialis bagi dokter yang 'mudblood' itu cenderung lebih 'challenging' dibanding dokter-dokter yang 'pure-blood'. Karena seringkali mereka yang udah punya koneksi akan lebih mudah untuk lanjut ke jenjang spesialis. Dan sebetulnya hal kayak gini berlaku hampir di semua bidang kan?

Sesi diskusi untuk pertanyaan ini menarik banget. Awalnya pertanyaan ini dijawab sama Abah (sorry, I actually don't know who he is) yang memoderatori sesi diskusi kemarin. Abah bilang, pada intinya kita perlu mengembalikan semuanya ke Allah. Istikharah. Kalau Allah mengarahkan kita ke suatu jalan, that would be the best for us, sekalipun ternyata nantinya kita gagal. Kata Abah, networking is important, but becoming the best version of ourselves is more important. And I agree with that.

Tapi, yang menarik itu ketika Ustadzuna ikut jump in ke sesi diskusi ini. Beliau kasih penjelasan yang menurutku mind blowing banget. Kalimat pertama dari jawaban Ustadzuna adalah, "don't fight it." 

Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami terlebih dahulu kalau hidup itu memang seringkali nggak adil. Life is fair because it's unfair, they said. Dan realitanya, mayoritas orang sukses itu memang lahir dari 'jalur belakang'. Rasulullah meminta kita untuk 'adapt', bukan 'complain'. Dan menurutku, ‘don’t fight it’ yang Ustadzuna katakan tadi bukan berarti membenarkan kezaliman, tapi menerima realita dunia tanpa kehilangan kompas nilai.

Bicara tentang networking, Rasulullah juga mengatakan keberkahan itu bersama senior.

البَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Keberkahan itu bersama orang-orang senior di antara kalian.”

(HR. At-Thabrani dan al-Hakim, serta disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)

Ketika bicara tentang khalifah, Rasulullah juga berkata kalau kekhalifahan hanya boleh dipegang oleh orang Quraisy (rujukan detailnya masih aku cari, guys). Sebagian ulama juga menjelaskan konteks historis dan sosial dari hadits ini. Kalau narasi ini digaungkan di era sekarang, ini kurang terdengar nepotisme gimana?

Di sini Ustadz Nuzul kasih pandangan kalau mendekat dengan senior atau orang yang lebih ahli di bidang yang kita tekuni itu memang diperlukan. Ustadz bilang, kalau hanya mengandalkan kecerdasan dan skill, senior kita justru akan melihat kita sebagai ancaman. Untuk bisa dilihat sebagai successor mereka, kita perlu merapat dan menjalin hubungan baik dengan mereka. 

Orang di level atas itu nggak sulit untuk dapat uang. Yang sulit mereka dapat itu kepercayaan. Dan kepercayaan nggak bisa didapat hanya dengan kecerdasan atau keahlian, tapi dengan adab dan loyalitas. 

Tapi sekali lagi, dunia itu memang nggak adil. Jadi kalau in the end kita nggak bisa dapat apa yang kita mau karena kalah sama yang lebih punya 'koneksi' atau bahkan kalah sama yang terang-terangan nepo baby, nggak perlu kecewa berlebihan. Di bagian ini lumayan nampar aku banget sih. Karena sebetulnya yang paling melelahkan bukan kegagalan, tapi membandingkan takdir kita dengan takdir orang lain.

Di bagian ini, ustadz kembali mengingatkan bahwa kita diciptakan sama Allah itu untuk beribadah, bukan untuk achieve something. Selama kita tetap bisa beribadah, nggak masalah Allah takdirkan kita di posisi manapun. 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

(Q.S Adz Dzariyat: 56)

Dan inti dari kehidupan itu bukan dengan berada di atas. Inti kehidupan itu bersyukur ketika berada di atas, dan bersabar ketika berada di bawah. 

Kemudian Ustadz tutup sesi diskusi ini dengan pesan; selama kita punya kejujuran, ketulusan, dan work ethic yang bagus, in syaa Allah, Allah kasih jalan..

Yang bisa aku simpulkan dari penjelasan Ustadz Nuzul di atas, meskipun terkesan tipis dan samar, sebenarnya ada perbedaan yang cukup jelas antara networking dan nepotisme. Nepotisme bisa dibilang sekadar privilege tanpa proses. Sementara networking membutuhkan adab, loyalitas, dan proses panjang untuk bisa mendapatkannya. Dan di situlah nilai seorang hamba diuji: ketika dunia nggak adil, apakah kita tetap memilih berjalan lurus. Dan ternyata, itu sering kali lebih sulit daripada sekedar “berhasil.”

Alhamdulillah bersyukur banget bisa berkesempatan datang ke Literary Sanctuary Jum'at lalu. Semoga Allah takdirkan aku untuk bisa datang lagi di sesi-sesi berikutnyaaaa. 

Dan perlu diingat, yang aku tulis ini berdasarkan catatan dan pemahamanku yang sangat mungkin ada kurang dan salahnya. Kalau ada yang mau meluruskan, I would be very happy :)

Wednesday, April 8, 2020

Short Story: Minta Kepada Siapa

pic from pinterest

Aku mengaduk es batu pada segelas green tea di hadapanku tanpa minat. "Serius nggak bisa nih, Ndin?" Kembali aku mengulang pertanyaan yang sama, sambil menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa cafe, yang sayangnya tidak terlalu empuk ini.

"Iya, sorry banget, Lan. Ini bos gue juga ngabarinnya dadakan banget." Jawab Andini dari ujung sambungan telepon. Jawaban yang sukses membuatku frustasi.

Andini adalah sahabatku semasa kuliah, yang saat ini sudah sukses menjadi penulis novel sekaligus influencer yang diidolakan oleh banyak generasi millennials. Sudah sejak awal bulan yang lalu aku memintanya untuk menjadi pembicara pada seminar orientasi mahasiswa baru di kampus almamater kami, yang sekarang ini juga menjadi tempatku mencari nafkah.

Acara tinggal satu pekan lagi dan setengah jam yang lalu Andini baru mengabarkan kalau tiba-tiba dia dijadwalkan untuk mengikuti training di Kuala Lumpur selama seminggu oleh kantornya. Selain sukses sebagai penulis, temanku yang satu ini memang masih berprofesi sebagai karyawan di salah satu kantor konsultan di Jakarta.

"Emang trainingnya nggak bisa ditunda dulu gitu, Ndin?" Pintaku sekali lagi, masih berusaha membujuknya.

Sudah empat bulan terakhir ini aku bekerja sebagai Public Relations di kampus tempatku berkuliah dulu. Minggu depan kami akan mengadakan orientasi mahasiswa baru dan salah satu mata acaranya adalah seminar yang akan diisi oleh alumni kampus yang bisa dikatakan sudah sukses dan punya nama.

Teman-teman kantor yang mengetahui bahwa aku bersahabat dengan Andini Sarananta, penulis muda yang novelnya akan segera diangkat ke layar lebar dan digandrungi banyak remaja, lantas memintaku untuk menghubungi Andini agar dia bersedia menjadi pembicara pada seminar nanti. Semua prosesnya lancar-lancar saja pada awalnya. Sampai siang ini..

"Nah itu dia masalahnya. Yang ngatur jadwal trainingnya kan bukan gue, Alanaa. Kalo bisa milih juga gue nggak mau ikut training sekarang." Jelas Andini dari ujung sambungan telepon, membuatku makin tidak berselera menghabiskan spaghetti carbonarra yang sudah ku pesan dan baru aku makan kurang dari sepertiganya.

Sudah sekitar setengah jam aku duduk di cafe ini sendirian. Cafe dengan interior serba putih yang sangat cozy dan lokasinya cukup dekat dengan kantor. Maksud hati ingin memanjakan diri, kabur dari kantor di jam makan siang untuk sedikit me time sebelum nantinya kembali ke kantor dengan jadwal meeting untuk membicarakan persiapan masa orientasi mahasiswa baru. Rencana me time yang jadi berantakan semenjak Andini meneleponku dan mengatakan tidak bisa menjadi pembicara seminar. Aku harus bilang apa ke timku saat meeting nanti??

"Atau lo cuti aja gimana? Jadi lo nggak perlu ikutan training, kan?" Usulku, masih tetap berusaha. 

"Ngajuin cuti pas jadwal training sih sama aja gue ngajuin surat pengunduran diri, Lan." Jawab Andini yang sepertinya mulai lelah memberikan penjelasan kepadaku. 

"Terus gue gimana dong, Ndin? Gue kan udah minta sama lo dari hampir dua bulan yang lalu. Masa dibatalin gitu aja? Gue harus nyari pembicara pengganti dari manaaa?" Aku kembali merengek sambil mulai menahan tangis. 

"Yah, Lan.. Gue minta maaf banget tapi gue beneran nggak bisa. Gue janji deh, ini gue sambil coba kontak temen-temen penulis lain yang kira-kira bisa gantiin gue. Kalo udah dapet gantinya, gue langsung hubungin lo. ASAP." Ujar Andini, berusaha menghiburku. Aku hanya menghela napas sambil mengaduk spaghetti di piringku tanpa minat.

"Lan? Haloo, Alana?"  

"Iya, Ndin. Ya udah kabarin aja kalo lo bisa dapet pembicara pengganti, ya. Bye, Assalamu'alaikum." Aku langsung mematikan sambungan telepon tanpa merasa perlu menunggu Andini membalas salamku. Aku masih kesal dengan sahabatku ini, walaupun aku tahu semua ini terjadi di luar kuasanya. 

Pupus sudah harapanku menjadi karyawan baru yang teladan. Saat dapat tugas untuk menghubungi pembicara, aku sangat excited karena rasanya bukan perkara sulit untuk meminta Andini mengosongkan jadwal. Sahabatku yang super ceria itu pasti mau membantuku. Sayangnya aku lupa bahwa dia juga seorang karyawan dengan jadwal pekerjaan yang padat luar biasa dan sewaktu-waktu jadwalnya bisa berubah. Alih-alih jadi karyawan baru yang teladan, sekarang aku justru harus memutar otak untuk mencari solusi sebelum meeting siang ini dimulai sekitar satu jam lagi. Nggak mungkin aku hadir meeting dengan berita buruk dan tangan kosong seperti ini, kan? Aku harus minta tolong ke mana lagii?

"Bun, tadi Tania di sekolah pake tas baru. Bagus deh tasnya, Bun. Ada gambar unicorn sama ada sequin nya. Kata Tania itu namanya tas smiggle. Naya mau tas kayak punya Tania itu, Bun." Celoteh anak perempuan di meja sebelah reflek membuatku menoleh.

Ku lihat Ia sedang menarik ujung kerudung bunda nya dengan tatapan penuh harap. Aku tebak usianya sekitar 7 atau 8 tahun, masih mengenakan seragam putih-merah dengan kerudung yang sudah sedikit berantakan. Permintaan anak itu menarik perhatianku, sejenak membuatku lupa dengan permasalahan yang aku hadapi. Well, tas smiggle kan nggak murah. Cukup brand minded juga ya anak SD zaman sekarang.

"Tas punya Naya kan masih bagus," Jawab bundanya acuh tak acuh, sambil membalik daftar menu yang dipegangnya. Anak kecil yang sepertinya bernama Naya tadi lantas menyandarkan tubuhnya pada lengan sang bunda, masih ingin meneruskan negosiasinya. 

"Iya tapi tas Naya kan nggak ada sequin nya, Bunda. Nggak keren kayak punya Taniaa." Ucap anak itu merajuk kepada bundanya. Kulihat kali ini sang bunda menghadapkan badannya ke anak kecil tadi, menatap anak itu dengan serius, kemudian mengatakan,

"Kalo Naya mau tas itu, minta sama Allah. Minta sama Ar-Razzaq untuk kasih rezeki ke Ayah sama Bunda. Minta sama Al-Hadi biar kasih petunjuk ke Ayah sama Bunda buat cari rezeki yang halal biar bisa beliin Naya tas baru. Hayo coba tadi pas shalat dzuhur Naya berdoa nggak?" Ucapan Bunda Naya ini rasanya bagai tamparan untukku. 

Minta sama Allah, minta sama Ar-Razzaq, minta sama Al-Hadi

Apa aku sudah meminta bantuan kepada Yang Maha Memberi Petunjuk atas segala permasalahanku ini? Aku minta bantuan kepada Andini seolah-olah hanya Andini lah yang dapat menolongku, lantas frustasi ketika ternyata harapanku tidak berjalan sesuai rencana. Aku lupa bahwa ada An-Nashir, Yang Maha Penolong, tempat aku seharusnya mengadu mengharap pertolongan pertama kali. Sekarang ini aku bahkan belum sahalat dzuhur! Astagfirullah..

"Oh iya, Naya lupa, Bunda. Naya berdoa sekarang, deh." Ucap anak itu seraya mengangkat kedua tangannya sambil mulut mungilnya bergerak-gerak, berbisik lirih mengucap doa dengan bahasa kanak-kanaknya yang sungguh menggemaskan. 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Terima kasih, Bunda dan Naya untuk pengingatnya! Ucapku dalam hati, kemudian mengambil ponsel dan dompetku untuk bergegas ke mushala cafe. Mushala kecil berukuran 3 x 4 meter inilah yang menjadi saksi bisu 'curhat'ku kepada Allah, mengutarakan segala permasalahanku tanpa adanya kata yang terucap. Tak terasa pipiku mulai basah akibat air mata yang turun tanpa aku komando. Tangisan ini bukan karena Andini yang tiba-tiba membatalkan janjinya kepadaku, bukan pula karena aku belum berhasil mendapatkan pembicara untuk menggantikan Andini. Tangisan ini adalah tangisan malu, malu karena aku melupakan Dzat yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat untukku bergantung. Malu karena tidak sepatutnya aku menyalahkan Andini. Segala permasalahan yang aku alami pastilah akibat dosa dan maksiat yang aku lakukan, entah sadar ataupun tidak.


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk. Aku menyeka air mataku lalu membaca pesan tersebut. Pesan dari Mbak Lita, atasanku di kantor. Kali ini aku sudah lebih tenang dan pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Dunia tidak akan kiamat hanya karena Andini tidak bisa menjadi pembicara seminar, kan? Timku di kantor pasti punya kenalan alumni sukses lainnya yang bisa menggantikan Andini. Aku hanya butuh bekerja lebih keras lagi, dan mempersiapkan diri untuk lembur tentunya.

Mba Lita (081234xxxx)

Alana, masih lunch di luar ya? Meeting akan kita majukan, ada perubahan agenda. Pihak televisi menawarkan kerjasama. Acara Telinga Nashwa direncanakan akan live di acara semintar orientasi mahasiswa baru. Otomatis kita tidak bisa menjadikan Andini Sarananta sebagai pembicara karena pembicara akan diisi Nashwa Syahab selaku host Telinga Nashwa sekaligus alumni kampus ini. Bisa segera kembali ke kantor? 


Masya Allah.. Doaku dibayar kontan! 

Sunday, July 7, 2019

Merasa Diawasi


bismillah..

Hey! It's been a while since the last time i've posted something here. Now is Dzulqo'dah already and I just trifled my Syawal away. Sepanjang bulan Syawal kemarin ga dateng ke kajian manapun dan rasanya keriiiiiiing banget. Bener-bener ngerasa lost aja gitu. Dan jadinya banyak ngerjain hal yang sia-sia kayak baca novel, nonton web series mulu, dengerin lagu, dll dll dll yang ga perlu dijelasin juga sih ya sebenernya. Heu

Mulut tuh juga rasanya jadi enteeeng banget buat ngomongin orang, nyinyir, komen yang ga perlu, bercanda berlebihan, yaa pokoknya sebulan kemarin itu rasanya futur banget deh. Padahal baru aja pisah sama Ramadhan ya :""

Nah alhamdulillah akhirnya Sabtu kemarin aku bisa dateng lagi ke kajian rutinnya Ustadz Nuzul Dzikri di Masjid Nurul Iman Blok M Square setelah hampir sebulan 'meliburkan diri' ga dateng-dateng kajian. Emang bener ya. obatnya futur itu ya dateng ke majlis ilmu dan kumpul sama orang-orang shalih. Ndilalah kok ya materi kajian kemarin itu rasanya paaaas banget. Berasa ditampar bolak-balik gitu akutuh rasanya. Nah karena materi kajian kemarin juga yang bikin aku pengen blogging lagi dan share sedikit materinya di sini. Minimal tulisan ini bisa jadi reminder buat aku sendiri kalo lagi iseng baca-bacain blog, mengingat kayaknya blog ini sekarang udah nggak ada pembacanya juga hahaha ngenes yha. Aku juga ga mau share full materi kajiannya di sini sih. Cuma mau share beberapa quotes yang berhasil 'nyentil' aku di kajian kemarin. Duh intro nya kepanjangan ya sepertinyaa.

Muraqabatullah,
merasa di awasi oleh Allah.

"Orang yang punya muraqabatullah, sikapnya 24 jam akan sama. Berbuat baik di manapun, bukan hanya di majlis saja." 

-Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri-


Nah, baru masuk awal materi aja rasanya udah kayak ditabokin. Kok ya kutipan di atas ga aku banget :( Kalo lagi di kajian atau kumpul sama temen-temen kajian rasanya lisan bisa banget terjaga. Rasanya lisan dan hati mudah banget buat ucap dzikrullah. Tapi kalo udah ga di majlis ilmu, kalo lagi ngumpul sama temen-temen kantor, atau temen-temen SMP atau SMA, lisan kok ya jadi mudah banget ghibahin orang, nyinyirin orang, secara ga langsung ngerendahin orang. Kayak lupa kalo ada Yang Maha Melihat yang pengawasannya ga akan luput sedetikpun. Sedih :( semoga Allah jaga kita untuk bisa terus merasa diawasi sama Allah ya..


"Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat."

-Bilal ibn Sa'ad-


Kalo yang ini jlebnya luar biasa sih..Emang kuncinya supaya bisa menghindari maksiat itu senantiasa merasa diawasi sama Allah. Sering-sering evaluasi diri, mempehatikan diri di setiap keadaan. Sekali lagi, semoga Allah jaga kita untuk bisa terus merasa diawasi sama Allah...

Aku ga mau share materinya secara lengkap karena aku rasa itu masih jauh di luar kapasitas aku. Takut ada salah-salah penyampaian yang malah menyesatkan. Kalau ada yang mau denger kajian full nya, better bisa langsung cek youtube channelnya Ustadz Nuzul Dzikri di sini. Biasanya dalam seminggu atau dua minggu akan di upload kok. Semoga kutipan dari quotes di atas cukup jadi reminder buat kita untuk lebih menjaga lisan, menjaga sikap, menjaga perilaku karena setiap gerak gerik kita itu ada yang mengawasi, dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak..

Muraqabatullah,
sederhana tapi susahnya minta ampun..


Lots of love,

Dhianti Ayu.



لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت
“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت
“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...